https://jurnal-unsultra.ac.id/index.php/sjme/issue/feed Sultra Journal of Mechanical Engineering 2025-08-05T16:51:38+00:00 Rustam Efendi rustamefendi032@gmail.com Open Journal Systems <p style="text-align: justify;"><img style="float: left;" src="/public/site/images/admin/Logo_SJME.png">adalah jurnal ilmiah dan teknologi yang diterbitkan oleh&nbsp; Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sulawesi Tenggara. SJME menerima artikel hasil penelitian di bidang teknik mesin meliputi bidang konversi energi, material, desain mekanikal, manufaktur dan otomasi, maupun artikel <em>review.&nbsp;</em>Sultra Journal of Mechanical Engineering diterbitkan setiap dua kali dalam setahun yaitu pada bulan April dan Oktober.</p> https://jurnal-unsultra.ac.id/index.php/sjme/article/view/1024 Potensi biomassa biji karet (hevea brasiliensis) sebagai bahan baku pembuatan biodisel di Indonesia 2025-06-06T10:21:55+00:00 Harmiansyah Harmiansyah harmibm@gmail.com Marliana Indah Rismayanti marlia.121310002@student.itera.ac.id Widiya Widiya widiya.121310003@student.itera.ac.id Anggi Mahdinda Sinaga anggi.121310006@student.itera.ac.id <p>Biodiesel merupakan mono-alkil ester rantai panjang asam lemak yang diperoleh dari sumber terbarukan. Penggunaan biodiesel untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Biji karet mempunyai potensi besar sebagai bahan dasar pembuatan biodisel, karena Indonesia merupakan salah satu produsen karet terbesar di dunia. Biji karet terdiri dari 40% minyak yang karakteristiknya telah memenuhi standar SNI sebagai bahan dasar biodisel. Dengan jumlah produksi biji karet sebesar 17908815 ton/tahun, potensi biodisel berbahan dasar minyak biji karet dapat mencapai 5671125 kiloliter/tahun. Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) khususnya solar dan diesel di Indonesia mencapai 18,39 juta kiloliter (KL) pertahunnya, dengan adanya biodisel dari minyak biji karet dapat mengurangi 1% konsumsi BBM masyarakat Indonesia tiap tahunnya jika diolah dengan optimal dan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar fosil. Biodiesel yang berbahan dasar biji karet menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih rendah, sehingga dapat menurunkan emisi karbon yang dihasilkan.</p> 2025-04-20T06:39:27+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnal-unsultra.ac.id/index.php/sjme/article/view/1123 Microbial fuel cells (MFC): Sebuah teknologi untuk biokonversi energi kimia pada limbah organik menjadi biolistrik 2025-06-06T10:19:20+00:00 Yohanna Anisa Indriyani mynameyoha@gmail.com Rustam Efendi rustamefenditm@gmail.com <p><em>Microbial fuel cells</em> (MFC) adalah alat bioelektrokimia yang dapat mengubah energi kimia menjadi energi listrik melalui aktivitas katalitik mikrob <em>electrogen</em>. Indonesia merupakan negara dengan populasi penduduk terpadat ke-4 di dunia, yang menghadapi tantangan akan kebutuhan energi terbarukan dan pengolahan limbah. Tulisan ini akan fokus pada topik pengolahan limbah di mana MFC menjadi salah satu teknologi alternatif untuk biokonversi limbah organik menjadi energi (biolistrik), serta tantangan-tantangan dalam pengembangannya. Beragamnya limbah organik yang dapat dimanfaatkan sebagai substrat serta besarnya potensi mikrob <em>indigenous </em>dari negeri mega-biodiversitas ini untuk diekslporasi sebagai biokatalisator MFC menunjukkan potensi besar pengembangan teknologi ini di Indonesia. Sejumlah limbah organik lokal telah diteliti dan menunjukkan potensi pengurangan COD (COD <em>removal</em>) mencapai 13.33-77.22% dan potensi listrik yang dihasilkan sekitar 7.74-700 mW m<sup>-2</sup>. MFC menghadirkan teknologi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, serta menawarkan pemecahan masalah dalam menangani limbah dibandingkan teknologi pengolahan limbah secara fisik-kimia-biologis konvensional yang masih dihadapkan pada sejumlah tantangan, di antaranya boros energi dan biaya. Meski demikian, aplikasi skala besar teknologi MFC masih menghadapi kendala teknis dan ekonomis.</p> 2025-06-06T10:16:01+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnal-unsultra.ac.id/index.php/sjme/article/view/707 Potensi limbah pertanian: pemanfaatan kulit singkong dan serat daun nanas dalam pembuatan bioplastik ramah lingkungan 2025-07-27T23:24:38+00:00 Al Aqib Anugerah Ramadhan alaqib.121310017@student.itera.ac.id Herviannna Indira Kusuma Riandara hervianna.121310056@student.itera.ac.id Harmiansyah Harmiansyah harmiansyah@tbs.itera.ac.id <p>Bahan pembuatan plastik sulit untuk terdegradasi secara alami. Permasalahan ini dapat berdampak pada lingkungan dan kesehatan tubuh. Masalah ini dapat diatasi dengan pemanfaatan limbah yang dapat dijadikan sebagai bahan pembuatan plastik ramah lingkungan, seperti bahan limbah daun nanas dan kulit singkong. Peninjauan dilakukan untuk mengkaji potensi penggunaan limbah kulit singkong dan serat daun nanas dalam proses pembuatan bioplastik. Klasifikasi kandungan amilosa dan amilopektin pada pati, komposisi kimia pada selulosa serat daun nanas, dan metode ekstraksi telah ditinjau dan dilaporkan secara ekstensif. Selulosa daun nanas dan pati kulit singkong telah ditinjau dapat berpotensi sebagai bahan baku pengembangan bioplastik yang ramah lingkungan. Ulasan ini sangat tertarik pada proses sifat mekanik dan fisik pada bioplastik pati kulit singkong dan selulosa daun nanas. Hasil dari peninjauan ini untuk memberikan ringkasan tentang berbahan dasar kulit singkong dan daun nanas sebagai bahan pengganti pembuatan plastik. &nbsp;</p> 2025-07-08T23:10:39+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnal-unsultra.ac.id/index.php/sjme/article/view/1238 Parameter setting level optimal kekasaran permukaan hasil pembubutan pada mesin bubut dengan material stainless steel 304 2025-07-27T23:04:57+00:00 Bambang Margono mejik80@gmail.com Edy Suryono qwedys12@gmail.com Endra Dwi Cahyol qwedys12@gmail.com <p>Penelitian ini menerapkan metode Taguchi untuk menentukan pengaturan parameter optimal dalam menghasilkan kekasaran permukaan terbaik pada proses pembubutan material <em>stainless steel</em> 304. Proses pemesinan dilakukan menggunakan mesin bubut semi otomatis, dengan pahat <em>insert</em> karbida merek ZCC.CT sebagai alat potong. Parameter pemesinan yang divariasikan meliputi kecepatan spindel, kecepatan pemakanan, kedalaman pemakanan, dan jenis cairan pendingin. Kombinasi keempat parameter tersebut disusun menggunakan matriks ortogonal L9, kemudian dianalisis menggunakan metode <em>Analysis of Variance</em> (ANOVA) dan rasio <em>signal-to-noise</em> (S/N) untuk menentukan parameter yang paling berpengaruh serta kombinasi optimalnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa kecepatan pemakanan dan kedalaman pemakanan merupakan faktor yang paling signifikan memengaruhi kekasaran permukaan pada <em>stainless steel</em> 304. Parameter optimal untuk menghasilkan kualitas permukaan terbaik diperoleh pada kecepatan spindel 660 rpm, kecepatan pemakanan 0,12 mm/rev, kedalaman pemakanan 0,8 mm, dan penggunaan pendingin kering/udara.</p> 2025-07-27T23:02:18+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnal-unsultra.ac.id/index.php/sjme/article/view/1230 Analisis tingkat emisi gas buang dari kendaraan operasional Dinas Perhubungan Kabupaten Sidenreng Rappang dan implikasinya terhadap kualitas udara 2025-08-05T16:15:06+00:00 Muhammad Arham andiarham413@gmail.com Husni Mubarak andiarham413@gmail.com Husni Husni andiarham413@gmail.com Muhammad Fachruddin andiarham413@gmail.com Akhsan Hamka andiarham413@gmail.com Marten Rombe andiarham413@gmail.com <p style="margin-top: 0cm; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"><span lang="EN-US" style="font-size: 10.0pt; font-family: 'Calibri Light',sans-serif;">Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik kendaraan dan hubungannya terhadap konsentrasi emisi gas buang pada kendaraan operasional Dinas Perhubungan Kabupaten Sidenreng Rappang. Penelitian dilakukan terhadap sembilan kendaraan dengan berbagai merek, kapasitas silinder, umur kendaraan, panjang perjalanan, dan intensitas perawatan yang berbeda. Metode yang digunakan adalah observasi langsung serta pengujian emisi gas buang berdasarkan parameter CO dan HC untuk mesin bensin, serta opasitas (opacity) untuk mesin diesel. Hasil pengujian menunjukkan bahwa 88,88% kendaraan lulus uji emisi, sementara 11,11% tidak lulus karena melebihi ambang batas opasitas yang ditetapkan, terutama pada kendaraan Mitsubishi Truck. Hasil analisis menunjukkan bahwa perawatan kendaraan merupakan faktor paling berpengaruh terhadap tingkat emisi gas buang. Kendaraan dengan umur lebih dari 10 tahun tetap dapat memenuhi baku mutu emisi selama dilakukan perawatan secara rutin. Selain itu, panjang perjalanan yang telah ditempuh juga turut memengaruhi emisi gas buang karena semakin panjang jarak tempuh, konsumsi bahan bakar meningkat sehingga emisi gas buang pun bertambah. Namun demikian, intensitas dan kualitas perawatan kendaraan mampu menekan peningkatan emisi tersebut. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengelolaan operasional kendaraan melalui perawatan berkala guna menjaga performa mesin dan menekan pencemaran udara dari emisi kendaraan bermotor.</span></p> 2025-08-05T16:15:06+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnal-unsultra.ac.id/index.php/sjme/article/view/1253 Uji kinerja mesin pengurai sabut kelapa 2025-08-05T16:51:38+00:00 Mas Wisnu Aninditya maswisnua@gmail.com Dzalika Maulidina Ananda Putri dzalika@gmail.com Muharfiza Muharfiza muharfiza@pepi.ac.id <p>Sabut merupakan bagian selimut yang berupa serat kasar kelapa. Sabut kelapa dapat diolah menjadi serat sabut kelapa (cocofiber) dan serbuk sabuk kelapa (cocopeat) yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Pembuatan mesin pengurai sabut kelapa menjadi cocofiber dan cocopeat diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomis dari kelapa. Adapun tujuan dari pelaksanaan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui kapasitas produksi mesin pengurai sabut kelapa, efisiensi penyeratan sabut kelapa, dan melakukan analisis keseragaman panjang serat sabut. Metode yang digunakan yaitu metode kuantitatif berupa uji verifikasi dan uji kinerja. Berdasarkan hasil pengujian didapatkan hasil kapasitas produksi tertinggi yaitu pada perlakuan sabut basah sebesar 10,36 kg/jam. Mesin pengurai sabut kelapa ini lebih efisien jika menggunakan sabut basah. Sabut basah lebih mudah terurai dikarenakan kondisi sabut yang tidak keras. Berdasarkan hasil pengukuran keseragaman panjang serat sabut dengan panjang 10 cm, serat sabut basah memiliki ukuran yang lebih panjang dengan persentase sebesar 55,72%.</p> 2025-08-05T16:41:29+00:00 ##submission.copyrightStatement##